Essay UNAS

UNAS ADIL atau TIDAK ?

Oleh : Edy Hartono/10315244005/Pend. IPA (INTER)

 

Suatu pembelajaran atau pemberian materi  sangat erat kaitannya dengan sebuah evaluasi. Evaluasi dapat berupa ulangan ataupun ujian, sebagai contoh dalam proses pembelajaran ditingkat dasar,  menengah, bahkan tingkat atas pasti diadakan ujian. Ujian tersebut tidak hanya dilaksanakan satu kali saja, misalnya: ujian tengah semester, ujian semester maupun ujian akhir. Suatu ujian terkadang menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian besar siswa. Salah satu ujian yang dianggap paling  menakutkan adalah Ujian Akhir Nasional (UNAS). Pada tulisan ini akan dibahas tentang permasalahan tersebut yaitu  Ujian Akhir Nasional (UNAS)  perlu dilaksanakan atau tidak.

Ujian Akhir Nasional (UNAS) merupakan evaluasi akhir yang dilaksanakan setelah siswa menempuh proses pembelajaran dan pendidikan dalam kurun waktu tertentu. Jenis ujian ini dilaksanakan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Suatu evaluasi sangat penting untuk dilaksanakan, hal ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak materi yang dapat dikuasai dan dipahami oleh seorang siswa. Ujian Akhir Nasional adalah sebuah tes atau ujian yang diberikan diakhir proses proses pembelajaran maupun pendidikan pada  suatu jenjang tertentu dengan tujuan mencapai standardisasi nilai kelulusan yang berstandar nasional untuk mencapai mutu terbaik bagi pendidikan di Indonesia. Pelaksanaan UNAS adalah selama 3 hari x 4 jam x 2 mata pelajaran, waktu yang sangatlah singkat. Tetapi mau tidak mau ujian tetap harus ditempuh. Ujian sebenarnya merupakan hal yang biasa bagi seorang pelajar dari setiap tahap suatu pelajaran yang pelajarinya dan klimaksnya selalu pada akhir setiap semester, tetapi yang menjadi pertanyaan saat ini adalah, “Mengapa Ujian Akhir Nasional selama 3 hari x 4 jam x 2 mata pelajaran itu menjadi begitu menakutkan bagi hampir seluruh pelajar?”  Sehingga banyak siswa yang tidak siap dengan ujian ini. Untuk menanggulangi hal tersebut perlu dilakukan persiapan sejak dini. Persiapan sebaiknya dimulai sejak siswa pada hari pertama mereka masuk di jenjang pendidikan yang ada diatasnya. Suatu kondisi nyata yang menggambarkan ketidaksiapan siswa untuk menghadapi Ujian Akhir Nasional (UNAS) yaitu beban mental kalau nantinya mereka tidak bisa melewati ujian ini dengan baik, sebagai contoh: banyak siswa yang tidak menguasai materi yang akan diujikan, ketakutan, kebingungan  bahkan menjadi depresi dan stres. Ini disebabkan selain banyaknya materi yang harus dikuasai juga beban mental yang dialami siswa itu sendiri karena proses pembelajaran selama bertahun-tahun  hanya ditentukan dalam waktu beberapa hari saja. Padahal yang beberapa hari tersebut sangatlah menentukan suatu keberhasilan siswa dalam menempuh pembelajaran dan pendidikan pada jenjang tersebut. Ini terkadang menjadi suatu pertanyaan Ujian Akhir Nasional (UNAS) adil atau tidak ?

Selain banyaknya materi yang harus dikuasai oleh siswa dan juga waktu yang tersedia kurang mencukupi, ditambah lagi siswa biasanya harus banyak latihan soal. Hal ini semakin memperberat  beban siswa tersebut. Sebagai contoh, anak kelas 3 SMA harus menguasai materi yang seharusnya disampaikan dalam waktu satu tahun tapi mereka biasanya hanya tujuh sampai delapan bulan saja, sedangkan sisa waktu sebelum ujian digunakan untuk mengulang materi yang ada dikelas bawahnya dan latihan soal. Hal tersebut terkadang membuat siswa menjadi jenuh tetapi disisi lain siswa juga cemas dan takut kalau dirinya nanti tidak lulus dalam ujian. Keadaan seperti ini dapat membuat suasana hati dan pikiran siswa menjadi tidak karuan, sehingga ketika hari H nya tiba siswa menjadi panik dan tidak bisa berpikir dengan jernih akibatnya biasanya berpikiran pendek yaitu dengan mencontek ataupun bertanya kepada teman. Ini kadang-kadang membuat siswa gagal dalam UNAS atau dengan kata lain tidak lulus.

Belajar itu adalah sebuah proses, jadi adilkah jika kelulusan siswa ditentukan hanya denga berapa jam bahkan hanya ditentukan dengan enam mata pelajaran? Bila kemudian didapati anak didik yang kesehariannya bernilai bagus dan berprestasi tetapi tidak lulus UNAS, sedangkan anak yang prestasinya biasa-biasa saja, bahkan dapat dikatakan bodoh, bisa lulus dan lolos dari “hantu” yang bernama UNAS tersebut. Ini menjadi tanda tanya sampai sekarang dan bahkan sebagian besar siswa berkata bahwa UNAS itu tidak adil. Demikian juga dengan orang tua siswa, mereka yang bertanya-tanya “mengapa UNAS harus dilaksanakan ?” Padahal menurut mereka UNAS  tidak perlu diadakan sebab mereka menyekolahkan anaknya dengan biaya yang tidak sedikit. Apabila kenyataan berkata lain yaitu anak mereka  tidak lulus, itu hanya akan menimbulkan kesedihan  dan sepertinya sekolah itu hanya buang waktu, tenaga, pikiran dan uang. Hal inilah yang menyebabkan pandangan UNAS itu kurang adil di mata mereka.

Berbicara soal Ujian Akhir Nasional (UNAS) efektif atau tidak, tergantung dari mana kita memandangnya. Di satu sisi sebuah evaluasi/ ujian sangat baik untuk dilaksanakan, hal ini menjadi suatu ukuran untuk mengetahui seberapa banyak materi yang dapat dikuasai siswa juga untuk mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam menyampaikan suatu materi pelajaran, tetapi disisi lain Ujian Akhir Nasional (UNAS) juga menjadi sesuatu yang memberatkan sekaligus menakutkan bagi siswa. Banyaknya materi yang dikuasai siswa menjadi salah satu alasan UNAS dirasa sangat berat, dan ujian ini menentukan kelulusan pada jenjang pendidikan yang sedang ditempuh. Ditambah lagi, sekarang guru jarang yang memberi  materi pelajaran dan siswa dituntut untuk lebih kreatif dengan cara mencari sendiri bahan untuk  sumber belajar,  kondisi ini semakin menambah berat beban siswa.

Suatu kegiatan biasanya tidak lepas dengan apa yang namanya dana. Sebagai contoh yaitu pada proses belajar di sekolah. Proses ini juga memerlukan dana yang besar apalagi dengan tidak adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada suatu jenjang pendidikan ini semakin  memberatkan siswa terutama orang tua mereka yang mencari uang sebagai biaya sekolah. Apa yang terjadi pada orang tua ketika si anak yang mereka biayai tidak lulus dalam ujian?.  Mereka pasti kecewa, marah, sedih, malu, bercampur jadi satu. Itu menyebabkan  Ujian Akhir Nasional (UNAS) sering dirasakan kurang adil setelah belajar bertahun-tahun dan menghabiskan dana yang tidak sedikit, tetapi hanya ditentukan oleh beberapa paket soal saja.

Betapa pun tingginya nilai rapor misalya dengan rata-rata 9,5 dan menjadi juara olimpiade, itu tidak menjamin seorang siswa lulus dalam ujian. Kalau nilai anak tersebut kurang dari standar nilai minimal kelulusan maka dia tetap tidak lulus. Tidak ada pengaruh nilai rapor atau prestasi lainnya, dengan kata lain semua murni dari hasil ujian.  Hal ini terkadang dirasakan kurang adil  bagi sebagian siswa yang pintar karena dia memiliki prestasi yang tinggi tetapi tidak lulus sedangkan siswa yang pas-pasan dapat lulus dengan nilai yang baik meskipun mereka hanya menyontek ataupun tanya pada teman, selain itu jumlah materi yang begitu banyak hanya diambil beberapa soal itupun sangat sulit diprediksi yang mana akan keluar dalam ujian padahal soal-soal tersebut menentukan nasib dan masa depan.

Siswa yang tidak lulus menjadi terhambat untuk melajutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Hasil jerih payah untuk menggapai sebuah kelulusan dan nilai baik pun ternyata tidak berpengaruh banyak pada siswa yang akan melanjutkan belajarnya ke Perguruan Tinggi. Nilai Ujian Akhir Nasional (UNAS) yang tinggi tidak menjamin seorang siswa diterima di suatu perguruan tinggi. Hasil UNAS sejauh ini belum mendapat tempat dan dibutuhkan di perguruan tinggi. Karena standarnya masih belum jelas. Jadi untuk apakah fungsi dari UNAS tersebut? UNAS telah melenceng jauh dari tujuan UNAS sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana di dalam UU tersebut menegaskan setiap siswa berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuanya. Banyak kasus dimana siswa telah diterima di sebuah Universitas melalui jalur PMDK, tetapi terpaksa harus mundur karena tidak lulus UNAS. Mereka yang lulus UNAS pun  untuk masuk ke perguruan tinggi maupun sekolah tinggi haruslah mengikuti seleksi yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi seleksi nasional masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun seleksi yang diadakan oleh kampus itu sendiri. Atau dengan kata lain nilai Ujian Akhir Nasional (UNAS) tidak berpengaruh dalam seleksi masuk Perguruan Tinggi.

Kita selalu membutuhkan sebuah evaluasi setiap selesai pembelajaran ataupun pemberian materi. Dalam  memilih evaluasi yang digunakan harus yang tepat, jangan sampai ada pihak yang dirugikan. Dalam hal ini evaluasi yang dipakai adalah  Ujian Akhir Nasional (UNAS), ujian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa paham tentang materi yang telah disampaikan oleh guru dalam waktu tertentu (selama bertahun-tahun), tetapi dalam menentukan kelulusan peserta didik jangan hanya 100 % (seratus persen) berdasarkan ujian ini dan harus ada pertimbangan-pertimbangan lain. Hal ini dikarenakan kelulusan dalam ujian akan berpengaruh pada masa depan siswa itu sendiri. Selain itu juga dapat digunakan untuk menilai keberhasilan guru dalam menyampaikan suatu materi pelajaran.

Oleh karena itu Ujian Akhir Nasional (UNAS) sangat baik untuk dilaksanakan. Hal ini memiliki tujuan untuk mengetahui seberapa banyak materi yang dapat dikuasai siswa dan untuk mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam menyampaikan suatu materi pelajaran. Akan tetapi, dalam menentukan sebuah kelulusan tidak hanya nilai ujian akhir saja yang menjadi acuan, haruslah mempertimbangkan aspek-aspek lain. Misalnya rapor, karena di dalam sebuah rapor terdapat perkembangan seorang siswa mulai dari nilai dan bagaimana sikap atau kepribadian  anak tersebut sehari-hari, karena, kalau kelulusan hanya ditentukan oleh ujian akhir maka seorang siswa tidak perlu datang ke sekolah setiap hari untuk belajar, tetapi hanya perlu datang setiap ada ujian saja. Ini tidak sesuai dengan makna dari belajar karena belajar itu adalah sebuah proses untuk meningkatkan pengetahuan maupun keterampilan.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: